Rasulullah SAW ingin menciptakan suatu generasi yang bersih jiwanya, bersih otaknya, bersih konsepsinya, bersih pemikirannya, bersih kejadiannya dari setiap pengaruh lain, selain dari metode Ilahi yang dikandung oleh Al Qur’an. Mereka, generasi pertama itu, memandang Al Qur’an bukan untuk tujuan menambah pengetahuan atau memperluas pandangan. Bukan untuk tujuan menikmati keindahan sastranya dan menikmati rasa nikmat yang ditimbulkannya. Tidak ada di antara mereka yang mempelajari Al Qur’an untuk menambah perbendaharaan ilmu hanya karena ilmu saja. Bukan untuk menambah perbendaharaannya dalam masalah ilmu pengetahuan dan ilmu fiqh. Sehingga otaknya menjadi penuh. Mereka mempelajari Al Qur’an untuk menerima perintah Allah tentang urusan pribadinya, tentang urusan golongan dimana ia hidup, tentang persoalan kehidupan yang dihidupinya, ia dan golongannya. Ia menerima perintah itu untuk segera dilaksanakan setelah mendengarnya. Persis sebagaimana prajurit di lapangan menerima ‘perintah harian’nya untuk dilaksanakan segera setelah diterima. Karena itu, tidak seorang pun yang minta tambah perintah sebanyak mungkin dalam satu pertemuan saja. Karena ia merasa hanya akan memperbanyak kewajiban dan tanggung jawab di atas pundaknya. Ia merasa puas dengan kira-kira sepuluh ayat saja. Dihafal dan dilaksanakan. Sebagaimana tersebut dalam hadits Ibnu Mas’ud, yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Pendahuluan buku tafsirnya.

—Sayyid Quthb

A person once asked a wiseman “What suprises you most, about Mankind?”

The wiseman replied….

“They lose their health to make money and then, lose their money to restore their health. By thinking anxiously about the future, they forget the present such that, they live neither for the present nor for the future. They live as if they will never die and they die, as if they had never lived.”

Butterflies can’t see their wings. They can’t see how truly beautiful they are, but everyone else can. People are like that as well. Be better.

Republik Zina Menunggu Binasa

Masih gadis sudah tidak perawan? Tak perlu mengernyitkan dahi. Saat ini perempuan belum menikah tapi sudah tidak virgin bukanlah barang langka. Survey terbaru yang dilakukan lembaga internasional DKT bekerja sama dengan Sutra and Fiesta Condoms mengungkap, remaja tak lepas dari seks bebas. Buktinya, 462 responden berusia 15 sampai 25 tahun semua mengaku pernah berhubungan seksual. Semua, 100 persen! Dan, mayoritas mereka melakukannya pertama kali saat usia 19 tahun. Survey dilakukan Mei 2011 di Jakarta, Surabaya, Bandung, Bali, dan Yogyakarta (Republika.co.id, 12/12/2011).

Selanjutnya, data yang diungkap lebih miris lagi. Yakni, sebanyak 88 persen hubungan seks dilakukan bersama pacar, 9 persen dengan sesama jenis (terutama wanita), dan 8 persen dengan PSK (untuk pria). Umumnya mereka melakukan zina di tempat kos (33 persen), hotel atau motel (28 persen), sementara rumah 24 persen. Lama pacaran mereka sebelum berhubungan seksual, rata-rata satu tahun.

Perzinaan agaknya sudah menjadi gaya hidup sebagian warga berhaluan liberal di Republik ini. Tepatnya, sejak kran liberalisasi di berbagai bidang dibuka, life style ala Barat yang sarat dengan gelagak syahwat turut menjadi penumpang gelap. Dilegalkan tidak, tapi merebak di mana-mana. Pornografi, pornoaksi, pelacuran, permesuman dan hiburan maksiat, begitu dekat, mengulik urat syahwat.

Tak peduli lelaki baru baligh, atau gadis bau kencur, jika saraf-saraf nafsunya sudah diobrak-abrik, apa pun dilakukan. Jika pintu legal pernikahan begitu terjal, zina gratis jadi pelampiasan. Toh suka sama suka, saling menguntungkan, tak ada yang dirugikan. Dan lebih penting, toh tak ketahuan. Boro-boro dikenai rajam atau sekadar dikucilkan, dengan bangga pelaku zina mem-videokan adegan vulgarnya.

Bagaimana dengan memperkosa? Memang terlalu berat risikonya. Kalau zina suka sama suka, tidak ada delik pidananya. Perkosaan hanya dilakukan mereka yang “kebelet” melampiaskan nafsu tapi tak punya pacar, atau tak punya uang untuk membayar pelacur. Juga, yang tak kuat nikah karena biaya administrasinya mahal, atau tak punya calon saking tak lakunya. Dan, di negeri ini, tipe seperti inipun tak kalah banyaknya. Fenomena pemerkosaan di angkutan umum adalah salah satunya. Korbannya sudah banyak berjatuhan, perempuan semakin terancam di luar sana. Kejahatan seksual mengintai setiap detik. Kalau tak diperdaya dengan rayuan gombal, dicaplok para pemerkosa. Duh!

Melarang atau Merangsang?

Omong kosong jika negara melindungi warganya. Yang ada bukannya melarang, malah merangsang mereka untuk menjadi penikmat syahwat.

Tidak pernah bersedia menghukum berat para pelaku zina. Bagaimana pelaku zina akan kapok, kalau ketahuan justru dinikahkan? Jangan heran jika kita membaca berita, tiap hari selalu ada episode-episode anyar video-video mesum amatir dengan aktor-aktris muda-mudi yang dimabuk asmara, pelajar kurang ajaran, atau pasangan selingkuh.

Sekali lagi, negara justru menggelontorkan kebijakan yang memperlonggar perzinaan. Media massa, novel, komik, iklan, lukisan, sinetron, film, foto, lagu dan tayangan realty show bertema cabul pun bebas beredar. Tidak akan dibredel sekalipun sudah protes massal oleh masyarakat. Pelacuran, eksploitasi aurat perempuan, dan tempat-tempat hiburan yang menjajakan syahwat, dibiarkan. Tidak akan ditutup asal menyumbang pajak.

Di sisi lain, negara membuat berbagai larangan untuk menyumbat penyaluran syahwat dengan cara-cara legal. Usia pernikahan terus dinaikkan, biaya nikah dimahalkan dan syarat penikahan diperketat. Termasuk, upaya pelarangan poligami sekalipun bagi mereka yang mampu. Mungkin memang inilah yang diharapkan negara liberal ini: industri porno menggeliat, zina dini meningkat, pemerkosaan berlipat, kehamilan di luar nikah tumbuh cepat, aborsi dipersingkat, dan lahirlah generasi-generasi bejat. Persis di Barat, yang kini di ambang kebinasaan. Akankah Republik ini diam saja menunggu saat yang sama?

Menolak Agama?

Fenomena di atas tentu bukan perkara remeh. Muda-mudi calon pemimpin masa depan, sudah sedemikian amoral. Berani menghalalkan zina yang jelas-jelas diharamkan. Anehnya, terhadap persoalan ini, tidak ada -kecuali kalangan Islam– yang menuding sistem hidup sekuler-liberallah yang menjadi akar masalahnya. Padahal sistem inilah yang “mewajibkan” remaja pacaran, hingga merasa tak gaul tanpa berhubungan badan dengan pujaan hatinya.

Sistem inilah yang mengajarkan, bahwa perempuan harus membuka auratnya, mempertontonkan kepada lelaki bukan mahromnya. Sistem inilah yang memandu tumbuh kembang remaja, tanpa didampingi kedua orangtuanya yang sangat sibuk digilas roda perekonomian. Sistem inilah yang memberhalakan materi, uang dan kenikmatan seksual.

Memang, mereka mengharapkan “agama” (baca: Islam) mampu menyelesaikan persoalan ini. Pada saat remaja ketahuan amoral, segera semua pihak berteriak “ini karena kurangnya pendidikan agama” atau “para ulama harusnya lebih berperan membina akhlak remaja” dan para guru dan orangtua harus menanamkan nilai-nilai moral lebih intens pada anak-anaknya.”

Agama dijadikan tong sampah saja, sekadar untuk memperbaiki keadaan yang sudah rusak. Anak nakal dan bandel, dikirim ke pesantren. Image pesantren sebagai pendidikan mulia pun babak belur. Terlebih lagi, pada saat yang sama diopinikan bahwa pesantren adalah “produsen” teroris. Lulusan pesantren, orang-orang mukhlis itu, didakwa membahayakan eksistensi negara. Sementara para pelaku maksiat dianggap pahlawan penyumbang devisa.

Tapi, baiklah, agama (baca: Islam) bersedia memperbaiki keadaan. Bahkan punya sulosi komprehensif untuk menuntaskan segala persoalan. Bukan hanya mengatasi perzinaan, itu terlalu “mudah.” Bahkan mengatasi kemiskinan, kelaparan, ketimpangan sosial, kriminalitas, dll, serahkan saja padanya.

Tapi, mengapa ketika Islam -yang dipeluk mayoritas penduduk negeri ini– mengajukan syariatnya sebagai solusi, dicap mengancam eksistensi negara, radikal, ekstrimis, intoleran, bahkan antipemerintah? Kenapa negara dengan setia menerapkan sekulerisme, padahal sekulerisme itu sendirilah yang melahirkan semua kebobrokan sosial ini? Sebaliknya, kenapa menuduh ideologi Islam, yang belum pernah diberi kesempatan memerintah negeri ini, dengan tuduhan-tuduhan miring? Tampak jelas, siapa yang bermuka dua, antara butuh dan tidak butuh terhadap Islam.

Inilah tanda-tanda akhir zaman. Ketika perzinaan merajalela dan masyarakat menganggapnya biasa. Kalau sudah begini, Republik ini tinggal menunggu kebinasaan. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, Abu Malik al Asy’ari bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan/menganggap halal perzinahan, sutera, minuman keras, dan musik-musik.” (HR. Bukhari)

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi SAW beliau bersabda: “Demi Allah yang diriku di tangan-Nya, tidaklah akan binasa umat ini sehingga orang-orang lelaki menerkam wanita di tengah jalan (dan menyetubuhinya) dan di antara mereka yang terbaik pada waktu itu berkata, “alangkah baiknya kalau saya sembunyikan wanita ini di balik dinding ini.” (HR. Abu Ya’la. Al Haitsami berkata, “perawi-perawinya shahih.” Lihat Majmu’ Zawaid: 7/331)

sebuah tulisan dari Ustzh.Asri Supatmiati yg saya kopi dgn sdikit pengeditan, Wallahua’lam!

It is ‘Asal, a such miraculous creation

Jikalau tlah ada sejuta tulisan tentang sebuah anugerah bagi anak Adam bernama Asal, maka biarlah ini menjadi tulisan ke sejuta satu. Sungguh, alam beserta isinya tlah bersaksi akan keajaiban yang Engkau titipkan padanya, maka izinkanlah aku termasuk di antara mereka.

Adalah MADU, yang saya maksudkan sebagai Asal (bhs Arab).

Terhasil dari bermacam ekstrak saripati terbaik di alam ini, pantaslah jika yang terkandung di dalamnya mampu menjadi obat di atas segala obat. Pun makhluk yang Allah amanahkan untuk meraciknya, mereka adalah serangga-serangga mulia yang teramat patuh kepada Tuhan-Nya. Tidak akan kita jumpai seekor lebah pun yang bersarang pada tempat-tempat yang tidak Allah sebutkan di dalam Surah An-Nahl: 68. Inilah bukti kepatuhan Lebah kepada Rabb-nya. Maka, lagi-lagi teramat pantaslah sesuatu yg dihasilkan makhluk yang bertakwa, dari zat yang mulia, dengan cara yang menakjubkan pula, lalu memiliki keajaiban tak terhingga seperti MADU. La haula wa la quwwata illa billah.

Dini hari tadi, saya terpekur ketika membaca sebuah artikel yang ditulis seorang dokter Amerika tentang kehebatan MADU sebagai terapi diabetes mellitus (DM). “Logic would dictate that the addition of honey to the diet, along with the elimination of most sugar and HFCS should be the first recommended treatment of choice for Type 2 Diabetes. Honey is an intelligent food, an informed food, a miraculous natural substance!demikian kutipan tulisan Ron Fessenden, MD, MPH dalam http://www.worldclassemprise.com/custom.aspx?id=21

Begitu pun dengan apa yang disajikan sebuah situs milik The George Mateljan Foundation, dalam artikelnya yang bertajuk World’s Healtiest Foods (selengkapnya di http://www.whfoods.com/genpage.php?tname=foodspice&dbid=96),

sungguh sesuatu yang sangat menakjubkan! mereka memaparkan kandungan riil MADU satu per satu. finally, diklaimlah bahwa MADU memiliki efek

 Anti-mikroba, Anti-Viral, Anti-fungal, Anti-oxidant, Anti-kanker, Anti-parasit, wound-healer, meningkatkan performa atlet, mengoptimalkan tumbuh kembang anak, memperbaiki kelainan metabolisme (kolesterol, lemak, glukosa, protein), dan memiliki kandungan multivitamin yang sangat menakjubkan!

kalau begitu, kesimpulannya adalah?? 

Ya, tepat sekali.. MADU adalah obat dari segala penyakit. 

dan MADU adalah suplemen terbaik. 

Masya Allah. 


Pantaslah, guruku itu, Prof.Aznan Lelo, sang Phylosophy of Doctor (Ph.D) lulusan sekolah kedokteran pertama di Australia (Flinders University-red) selalu menggebu-gebu setiap memberi ceramah tentang madu. Salah satu true story yg pernah diceritakannya kepadaku adalah tentang kesembuhan pasien carcinoma prostate st.4 setelah meminum MADU dessert dalam jumlah besar. seriously, stadium 4. saya pun terbelalak kala itu. dalam beberapa minggu meminum MADU tersebut, hasil analisa histopatologi menyatakan bahwa prostate bapak tua tersebut sudah “mulus” lagi. sel-sel kanker sudah pergi entah kemana. MasyaAllah, seriously ajiiib!!

Dan pantas juga, si Harry Andrean, ex-Gubernur mahasiswa di kampusku, nyaris speechless tatkala melihat hasil akhir penelitian KTI-nya! waktu itu dia mengambil judul (saya agak lupa) tentang pengaruh pemberian MADU pada liver mencit yang dipaparkan Plumbum (timbal-red). Dan hasilnya menakjubkan! liver mencit-mencit si Harry yang diberi MADU terlihat jauuuuuh lebih baik drpd liver mencit-mencit yang tidak diberi MADU. 

Dan terakhir, pantas juga si Emak, Ibunda-ku yang cool itu, dari dulu sampai sekarang jaraaaaaaang sekali sakit. beliau bukan seorang yg rajin olahraga atau seorang yang sangat menjaga pola makan, bahkan saya sering mengomeli beliau karena cuek bebeknya pada kesehatannya sendiri. Emak cerita bahwa dulu, masa dia masih kecil, Emak sering sekali minum MADU murni yang dicarikan oleh Alm.Atok Uyon.dan Emak yakin sekali bahwa karena itulah ia memiliki tubuh yang kebal dan ga rewel. Wallahua’alam!

Jari dan otak ini tentu tak akan mampu menulis setiap kemukjizatan yang terdapat di dalamnya. Namun, semoga catatan tak seberapa ini dapat membangkitkan ghirah kita untuk mengikuti mereka yang telah terlebih dulu memanfaatkan MADU sebagai the Guardian of health and The Doctor of ache. InshaAllah.

Oia, sayang kalau ga saya sebutkan sekalian di sini. jadi, doctor Ron Fessenden itu juga menyebutkan dalam tulisannya bahwa saat terbaik mengkonsumsi MADU adalah..

1. 1 sdm yang dicampur dengan air putih/ yogurt pada pagi hari

2. 1 sdm (terserah mau diapain) sebelum tidur malam

3. 1-3 sdm sepanjang sisa hari sbg campuran minuman, selai roti, pemanis makanan, dll.

Poin pertama! Ya poin pertama.. persis seperti kebiasaan harian yang disunnahkan Rasulullah SAW! meminum air dingin yang dicampur dengan sesendok madu adalah salah satu tips jitu Rasulullah yang membuat Beliau SAW jaraaang sakit (menurut riwayat,seumur hidupnya,Beliau SAW hanya sakit 2 kali: sekali karena kena sihir seorg yahudi yg lgsg  sembuh slepas Rasulullah membaca Surah Al-Falaq; dan sekali menjelang wafat Beliau SAW). Hm…..memang benar kata Jerry D.Gray bahwa Rasulullah is my Doctor. Jadi, jika kita mau mengamalkan pepatah “sambil menyelam minum air”, maka biasakanlah meminum madu ini dengan niat utama mengamalkan Sunnah Rasulullah SAW diiringi keinginan memperoleh berkah khasiat madu. ibarat belanja, buy one get two!

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia”.Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. An-Nahl:68-69

Wallahua’lam bisshowab,12/02/2012, 07.55 WIB